Nona…
Aku punya cerita,iya cerita dari masa lalu yang sepertinya terlalu mubazir kalo dibiarkan cuma sekedar jadi memori di dalam otak ku yang volumenya terbatas ini. O iya,sebulan yang lalu tepatnya tanggal 10 di bulan ke sepuluh menurut kalender resmi yang diakui di negeri ini,kamu ulang tahun yang ke 20 kan? Selamat! Tapi maaf,aku nggak bisa ngasih apa-apa. Bukannya aku nggak sanggup buat beli sesuatu atau nggak mau ngeluarin sedikit dari kiriman bulanan dari bapakku,aku cuma takut kamu nggak sudi buat nerima hadiah dari ku. Tapi, kamu harus percaya kalo aku nggak pernah bosan buat menengadahkan tangan setiap habis ritual ibadah 5 waktu buat ngemis sama Tuhan yang aku sembah. Aku selalu minta sama Dia biar Dia nggak pernah bosan buat nyayangin kamu.Soalnya aku yakin plus percaya kalo dia uda sayang sama kita,nggak ada satu hal pun yang bisa bikin kita nggak bahagia di dunia ini.
O iya,tadi aku janiji buat cerita sesuatu ya? Jadi,begini ceritanya…
Waktu itu,di suatu sore,di lapangan sekolah SMA ku yang sempit dan multifungsional itu aku lagi latihan Pramuka. Waktu itu sore yang cerah dan aku bisa liat di langit biru yang dirubung awan putih,bahwa ternyata lukisan alam yang dibuat sama Tuhan itu memang tiada duanya nona. Kalo Leonardo Da Vinci cuma bisa ngelukis Monalisa diatas kanvas yang ukurannya nggak sampe 1x1 m, Tuhan punya langit yang katanya sampe 7 lapis buat dijadiin kanvas lukisannya. Tapi,yang bikin sore itu terasa lebih indah dari lukisan alamnya Tuhan yang biasa aku liat setiap sore adalah….
Aku punya cerita,iya cerita dari masa lalu yang sepertinya terlalu mubazir kalo dibiarkan cuma sekedar jadi memori di dalam otak ku yang volumenya terbatas ini. O iya,sebulan yang lalu tepatnya tanggal 10 di bulan ke sepuluh menurut kalender resmi yang diakui di negeri ini,kamu ulang tahun yang ke 20 kan? Selamat! Tapi maaf,aku nggak bisa ngasih apa-apa. Bukannya aku nggak sanggup buat beli sesuatu atau nggak mau ngeluarin sedikit dari kiriman bulanan dari bapakku,aku cuma takut kamu nggak sudi buat nerima hadiah dari ku. Tapi, kamu harus percaya kalo aku nggak pernah bosan buat menengadahkan tangan setiap habis ritual ibadah 5 waktu buat ngemis sama Tuhan yang aku sembah. Aku selalu minta sama Dia biar Dia nggak pernah bosan buat nyayangin kamu.Soalnya aku yakin plus percaya kalo dia uda sayang sama kita,nggak ada satu hal pun yang bisa bikin kita nggak bahagia di dunia ini.
O iya,tadi aku janiji buat cerita sesuatu ya? Jadi,begini ceritanya…
Waktu itu,di suatu sore,di lapangan sekolah SMA ku yang sempit dan multifungsional itu aku lagi latihan Pramuka. Waktu itu sore yang cerah dan aku bisa liat di langit biru yang dirubung awan putih,bahwa ternyata lukisan alam yang dibuat sama Tuhan itu memang tiada duanya nona. Kalo Leonardo Da Vinci cuma bisa ngelukis Monalisa diatas kanvas yang ukurannya nggak sampe 1x1 m, Tuhan punya langit yang katanya sampe 7 lapis buat dijadiin kanvas lukisannya. Tapi,yang bikin sore itu terasa lebih indah dari lukisan alamnya Tuhan yang biasa aku liat setiap sore adalah….
Nona….
Kamu harus tau,karena lapangan sekolahku itu kecil dan satu-satunya yang tersedia,kami sebagai anak Pramuka harus berbagi lapangan sama anak Paskibra yang juga acap kali menggelar pemusatan latihan di lapangan yang sama. Yah,kalo menurut aku sih itu merupakan sebuah estetika tersendiri ketika ngeliat anak muda rela buang-buang waktu luang di sore hari cuma buat latihan baris – berbaris di bawah langit sore yang walaupun indah tapi cukup menguras keringat. Tapi nona…kamu harus tau kalo ada sesuatu yang bikin aku selalu bersemangat buat datang ke lapangan itu dan berbagi lahan sama anak paskibra. Iya,waktu itu ketika aku dan sekitar 20an anggota pramuka lainnya sedang latian baris-berbaris,kami berpapasan tepat di tengah lapangan dengan anak paskibra. Dan, tiba- tiba lensa kedua bola mataku menangkap sebuah ‘frame’ yang sempat membuat detak jantungku berhenti di ‘pit stop’ selama sepersekian detik. Dunia tiba-tiba menjadi ‘slow motion’,langkah kakiku yang tadinya menghentak seirama dengan 20an anggota pramuka lainnya,berubah menciptakan irama sendiri. Aku ingat, ‘frame’ hasil tangkapan lensa kedua bola mataku waktu itu isinya ; seorang gadis berwajah oval,berambut hitam panjang terikat,berbibir tipis tapi sensual,berkulit putih bersih khas gadis rumahan,dan dibalut sweater hijau yang membuat si gadis rumahan ini terlihat lebih mencolok diantara seluruh anak paskibra. Benar saja nona,’frame’ hasil tangkapan lensa kedua bola mataku itu langsung aku simpan di dalam memori otakku yang volumenya tak seberapa. Seandainya waktu itu memori otakku sudah penuh,aku bersumpah pasti akan menghapus seluruh file-file tersebut demi menyimpan sebuah ‘frame’ yang lebih indah dari lukisan lembayung senjanya Tuhan.Sumpah nona,’frame’ ini tiba-tiba menjadi stimulan yang bisa memacu hormon endorphin dan dophamin dalam tubuhku. Wajah lugu si gadis rumahan ini sekarang sudah menjadi virus yang nggak bisa dihapus dari memori otakku.
Kamu harus tau,karena lapangan sekolahku itu kecil dan satu-satunya yang tersedia,kami sebagai anak Pramuka harus berbagi lapangan sama anak Paskibra yang juga acap kali menggelar pemusatan latihan di lapangan yang sama. Yah,kalo menurut aku sih itu merupakan sebuah estetika tersendiri ketika ngeliat anak muda rela buang-buang waktu luang di sore hari cuma buat latihan baris – berbaris di bawah langit sore yang walaupun indah tapi cukup menguras keringat. Tapi nona…kamu harus tau kalo ada sesuatu yang bikin aku selalu bersemangat buat datang ke lapangan itu dan berbagi lahan sama anak paskibra. Iya,waktu itu ketika aku dan sekitar 20an anggota pramuka lainnya sedang latian baris-berbaris,kami berpapasan tepat di tengah lapangan dengan anak paskibra. Dan, tiba- tiba lensa kedua bola mataku menangkap sebuah ‘frame’ yang sempat membuat detak jantungku berhenti di ‘pit stop’ selama sepersekian detik. Dunia tiba-tiba menjadi ‘slow motion’,langkah kakiku yang tadinya menghentak seirama dengan 20an anggota pramuka lainnya,berubah menciptakan irama sendiri. Aku ingat, ‘frame’ hasil tangkapan lensa kedua bola mataku waktu itu isinya ; seorang gadis berwajah oval,berambut hitam panjang terikat,berbibir tipis tapi sensual,berkulit putih bersih khas gadis rumahan,dan dibalut sweater hijau yang membuat si gadis rumahan ini terlihat lebih mencolok diantara seluruh anak paskibra. Benar saja nona,’frame’ hasil tangkapan lensa kedua bola mataku itu langsung aku simpan di dalam memori otakku yang volumenya tak seberapa. Seandainya waktu itu memori otakku sudah penuh,aku bersumpah pasti akan menghapus seluruh file-file tersebut demi menyimpan sebuah ‘frame’ yang lebih indah dari lukisan lembayung senjanya Tuhan.Sumpah nona,’frame’ ini tiba-tiba menjadi stimulan yang bisa memacu hormon endorphin dan dophamin dalam tubuhku. Wajah lugu si gadis rumahan ini sekarang sudah menjadi virus yang nggak bisa dihapus dari memori otakku.
Nona….
Waktu aku menulis memoar ini,aku baru saja pulang dari sebuah warung aceh di salah satu sudut di tengah hiruk pikuk Jatinangor.Aku juga tadi ketemu pengamen yang bawain lagunya Slank yang judulnya “terlalu manis untuk dilupakan”,tapi sayang aku nggak punya uang receh buat si pengamen. Oiya nona,kamu sekarang uda jadi mahasiswa semester 5 fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan kan? Kapan-kapan kalo kamu punya kesempatan buat liburan ke Bandung,aku janji aku bakalan ngajak kamu jalan-jalan ke Braga buat ngeliat musisi jalanan Bandung mainin gitar sambil nyanyi.Asal kamu tau nona,Braga itu salah satu sudut tertua dan paling eksotis di Bandung.Yah,mungkin nggak jauh beda sama kawasan Merdeka Walk-nya Medan lah.Tapi,aku yakin Braga lebih romantis karena banyak bangunan dengan desain ‘art deco’ terhampar di sepanjang jalan.
Waktu aku menulis memoar ini,aku baru saja pulang dari sebuah warung aceh di salah satu sudut di tengah hiruk pikuk Jatinangor.Aku juga tadi ketemu pengamen yang bawain lagunya Slank yang judulnya “terlalu manis untuk dilupakan”,tapi sayang aku nggak punya uang receh buat si pengamen. Oiya nona,kamu sekarang uda jadi mahasiswa semester 5 fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan kan? Kapan-kapan kalo kamu punya kesempatan buat liburan ke Bandung,aku janji aku bakalan ngajak kamu jalan-jalan ke Braga buat ngeliat musisi jalanan Bandung mainin gitar sambil nyanyi.Asal kamu tau nona,Braga itu salah satu sudut tertua dan paling eksotis di Bandung.Yah,mungkin nggak jauh beda sama kawasan Merdeka Walk-nya Medan lah.Tapi,aku yakin Braga lebih romantis karena banyak bangunan dengan desain ‘art deco’ terhampar di sepanjang jalan.
Cukup sekian nona buat ceritaku
hari ini,mungkin esok,lusa,pekan berikut,bulan berikut,atau ntah kapan aku akan
berbagi cerita lagi sama kamu…
Selamat malam nona…….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar