Senin, 11 November 2013

THOSE SHOCKING SHAKING DAYS : ANTOLOGI ROCK INDONESIA

“This anthology is up there! I love the music that is in this anthology and I’m obviously glad to take part to disseminate it all over the world.”  Inilah kata – kata yang terucap oleh Eothen “Egon” Alapatt,produser musik yang mangarsiteki lahirnya album kompilasi musik rock & funk Indonesia era ’70-an.
                Album kompilasi  yang berjudul “Those Shocking Shaking Days:  Indonesian Hard,Psychedelic,Progressive Rock and Funk1970-1978”  telah banyak menuai pujian dari kalangan pecinta musik di luar Indonesia. Antara lain ikon musik hardcore Henry Rollins dan pemeran karakter Frodo dalam trilogi The Lord of The Ring,Elijah Wood.Album ini berisikan 20 lagu dari beberapa band papan atas yang pernah mewarnai belantika musik tanah air pada era 70’an.Seperti Koes Plus,The Balck Brothers,AKA,The Gang of Harry Roesli dan SharkMove.Namun publik pasti bertanya-tanya siapakah sebenarnya Eothen “Egon” Alapatt,orang yang bertanggung jawab atas terciptanya antologi musik rock Indonesia ini?
                Produser musik asal Amerika yang kerap dipanggil Egon,merupakan pemilik dari label rekaman Now-Again Record dan juga general manager Stones Throw Record,salah satu label independen papan atas Amerika.Egon rela menghabiskan waktu dan materi untuk berkutat dengan proyek yang murni dia prakarsai sendiri dan didanai oleh dana pribadinya.Dia berpendapat bahwa musik rock Indonesia pada era ’70-an merupakan sebuah era yang dipenuhi oleh musisi-musisi yang tidak hanya berbakat tetapi juga memiliki karakter tersendiri yang khas.Pada era tersebut Indonesia masih berada dibawah rezim pemerintahan Soeharto yang represif.Oleh sebab itu pula banyak musisi rock yang gencar menyuarakan perlawanan dan pemberontakan terhadap rezim yang represif tersebut melalui musik.
Hal itu terlihat jelas dari beberapa lagu yang menjadi pengisi line up album kompilasi ini.Salah satunya adalah lagu yang dibawakan oleh Freedom of Rhapsodia yang berjudul “Freedom”  berisikan lirik sebagai berikut : “I don’t care if the government won’t stay out of my life/I want freedom, freedom like a bird/I want to walk and sleep anywhere I want”.Begitulah lirik secara keseluruhan dari lagu tersebut dan dinyanyikan secara berulang-ulang.Selain lagu tersebut,ada juga lagu dari AKA yang dimotori oleh frontman  dan rocker  paling tetarikal dalam sejarah musik Indonesia,Ucok Harahap.Lagu mereka yang berjudul “Do What You Like” kental dengan nuansa pemberontakan dan kritik terhadap kondisi bangsa kita yang saat itu masih sangat terkekang dan tertutup.
Sekarang album kompilasi ini telah beredar luas di Amerika dan beberapa Negara di Eropa, seperti Belanda yang notabene memiliki pertalian historis yang sangat kuat dengan Indonesia.Banyak musisi – musisi Belanda yang merupakan keturunan Indonesia seperti Daniel Sahuleka dan Andy Tielman yang merupakan frontman dari The Tielman Brothers.Selain itu,salah satu band yang mengisi line up album kompilasi ini,The Black Brothers lewat lagu mereka “Saman Doye” ,merupakan band yang dulu populer di Belanda dan sering mengadakan konser di sana.Akan tetapi,hal yang sangat disayangkan adalah para musisi ini seakan terlupakan dan begitu juga dengan albumkompilasi ini.Album yang mendapat sambutan hangat dan menuai banyak pujian di luar negeri justru tidak populer di negeri sendiri.
Apa yang telah dilakukan oleh Eothen Alapatt bersama label rekamannya seharusnya menjadi tamparan bagi para pelaku industri musik di Indonesia sekarang.Industri musik Indonesia saat ini seakan telah kehilangan warna karena terjebak ke dalam pola industri pasar,dimana para musisi yang ingin sukses tidak cukup hanya memiliki bakat tetapi juga harus memiliki penampilan yang  menjual.Fenomena menjamurnya boyband dan girlband  di Indonesia juga menunjukkan bahwa premis tersebut adalah hal yang konkrit. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar